Uncategorized

Mengomentari Film; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

“Hep, kamu harus nonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck!”

Ujar seorang teman.

Saya masih belum tertarik saat itu. Kemunculannya bersamaan dengan film Soekarno sehingga gaungnya agak tertimbun sedikit. Tapi ketika ada beberapa teman lain yang juga ikut menyebut film itu di socmed, saya mulai penasaran. “Ini ada apa sih rame rame?”

Saya carilah trailer-nya di Youtube. Kagetlah betapa kuper-nya saya yang baru ngeh bahwa film itu adalah adaptasi dari karya sastrawan legendaris Indonesia, Buya Hamka. Huwe, ngaku suka baca sastra tapi yang begini aja nggak tahu. Saya nilai sekilas dari Trailer-nya cukup menjanjikan. Settingnya, tata letak gambarnya, emosi yang dibangun… Dari situ saya niatkan untuk menonton filmnya. Mungkin ga di bioskop… Mungkin di ganool atau youtube…:P #kaburr)

Ternyata eh ternyata kakak saya baru saja menonton film itu. Saya tanya komentarnya, dia melengos santai. “Kaya Titanic…”

Ibu dan Ayah yang merupakan remaja pembaca novel TKVDW juga tidak tega untuk menonton filmnya. “Nggak ah… Hamka itu novel-novelnya sarat dengan syiar islam. Sementara sineas kita kadang ambil permukaanya aja.”

Beda lagi dengan guru SMA saya yang ‘katanya’ air matanya habis nonton film itu. “Padahal ibu akrab banget sama novelnya teh.. (di SMA saya dipaggil teteh, ikutan orang tua saya yang juga guru di SMA saya) Jadi udah tau ceritanya dan bilang ga akan nangislah… Waduh ternyata air mata ibu sampai kaya mau habis teh… Pokoknya teteh harus nonton lah…”

Rasa penasaran saya pun meningkat menjadi ‘ingin menontonnya di Bioskop’. Tapi belum tahu kapan dan bagaimana caranya. *tsaah

Rezeki gak pergi kemana. Akhirnya ada kesempatan untuk bisa menonton TKVDW (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) bersamaan dengan acara kencan bersama dua adik saya, Hanna dan Gina. Sebenarnya saya bebaskan adik adik saya untuk memilih film apapun saat itu. Karna ketika saya tawarkan untuk nonton TKVDW, mereka menolak mentah mentah. Mungkin dalam bayangan mereka kita akan menonton film sejarah,seperti bayangan saya yang awal. Tapi berhubung yang tayang hari itu tidak memungkinkan untuk di tonton selain TKVDW (Cuma ada The Wolf of The wall Street untuk Dewasa, dan Film Hantu Indonesia yang gajelas), mereka tidak punya pilihan lain.

Hoho. Saya ketawa menang dalam hati.

Daan… Setelah nonton film itu, saya jadi agak gatel untuk nulis beberapa komentar ‘sok tahu’. Gelitikan ini juga muncul karena sebelumnya saya nonton pembahasan tentang industri film Indonesia di Tonight Show. Narasumbernya ada Christine Hakim, Didi Petet, dan Lola Amaria. Bercerita tentang industri perfilman Indonesia yang ingin bangkit kembali,tapi miskin ide. Takut dengan animo penonton yang rendah. Karena itu sebagian besar film Indonesia saat ini bukan merupakan ide baru, tapi adaptasi dari novel. Novel yang sudah memiliki pasarnya sendiri, jadi mereka sudah bisa menargetkan peminatnya.

Saya ingin lihat, apakah Soraya Film memproduksi TKVDW hanya karena  ‘mau bikin film’, tapi ‘miskin ide’, maka dibongkarlah ‘arsip lama’, berhubung best Seller sekarang sudah habis difilmkan. Saya ingin tahu, apakah TKVDW ini bagian dari film film ‘peramai’ tadi. Ataukah produsernya memang punya inisiatif tulus untuk mentransfer kekuatan novel-nya dulu menjadi bentuk lain yang bisa dinikmati dan dipetik hikmahnya oleh masyarakat.

TAPI, Komentar ini cuma saya dasarkan dari pengalaman nonton filmnya satu kali. Saya belum pernah membaca bukunya, jadi tidak akan saya bandingkan dengan buku. Saya tidak riset latar belakang pemain maupun saat berlangsungnya produksi. Komentar ‘sok tahu’ berikut adalah dari sudut pandang penonton awam. Hanya dari apa yang saya ingat dan rasakan saat itu.

Gambar -The Story-

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah kisah cinta seorang anak manusia bernama Zainuddin. Ayahnya adalah Pendekar Sutan dari Minangkabau tetapi ibunya bugis, yang membuatnya dianggap tak bersuku ketika merantau ke tanah Batipuh. Ia jatuh cinta pada bunga Batipuh bernama Hayati. Tradisi menjadi penghalang bagi mereka untuk bersatu. Dari situ, takdirpun bermain peran menghadirkan perih, pahit dan manis dalam perjalanan cinta mereka berdua.

Saya rasa Hamka menulis novel ini sebagai kritik sosial bagi sukunya saat itu. Tetapi saya tidak merasa bagian ini diramu dengan serius. Bagaimana pentingnya adat dijunjung, betapa diskriminasi masih kuat bagi ‘orang tidak bersuku’. Bagi saya, yang punya tradisi yang berbeda, kadang masih bingung seserius apa masalah adat antara Zainuddin dan Hayati. Saya melihat usaha untuk menggambarkan hal tersebut di film, tapi agaknya kurang maksimal. Alih alih kita terhanyut dengan cerita cinta mereka sepenuhnya, dan ga memikirkan rinci tentang hal tadi.

Saya jadi teringat novel Sang Penari karya Ahmad Tohari yang juga diadaptasi menjadi film. Filmnya kaya dengan budaya masyarakat Indonesia yang eksotis dan kadang nyeleneh. Kita dibawa dari mindset standar kita ke mindset setting film itu. Merasakan ada di tengah tengah masyarakat dan budaya itu.

Memang saya tidak berhak membandingkan film dengan bukunya, tapi betul sekali apa yang dikatakan ayah dan ibu saya. Isinya kisah cinta saja. Tentu banyak pelajaran hidup luar biasa berharga yang bisa diambil, tapi yaitu; kisahnya tidak kaya dengan nilai nilai yang lain. Pesan keagamaannya pun tidak diikutsertakan di dalamnya,hanya jadi pembumbu. Padahal saya yakin, misi Hamka banyak dalam karyanya ini. Bukan hanya untuk terhanyut dalam kisah cinta yang indah.

Ketika Hayati tenggelam, dan surat perlahan dibaca, saya rasa itu sudah klimaks cerita dan buatlah ending yang cepat dari titik itu. Ternyata tidak, perasaan penonton dibuat turun kembali, dihiasi dengan keharuan yang agak membosankan. Serasa naik lalu turun kembali, naik lalu turun kembali. Tidak bertahap naik ke puncak dan akhirnya turun dengan cepat. Klimaks air matanya sudah di adegan yang sebelumnya, kenapa dibuat lagi di akhir?

-Setting, Layout, View-

Film dibuka dengan pemandangan syahdu alam Indonesia. Kata teman saya itu di Takalar,tempat Zainuddin pamit pada ibunya untuk merantau ke tempat asal ayahnya; Batipuh, Padang. Gambar gambar selanjutnya pun cantik dan memanjakan mata. Membuat saya tersenyum dan cukup terkesan dengan kesungguhan produser untuk memperlihatkan keelokan Indonesia. Alamnya, struktur terbangunnya, kostumnya…  Tetapi selanjutnya ada yang mengganggu. Kenapa suasana di latar Batipuh selalu seperti pagi atau subuh subuh. Dominan biru dan hijau, saya merasakan bahwa banyak efek yang di aplikasikan. Sah sah saja, tetapi terlalu banyak membuat saya terganggu dan ganjil. Saya asumsikan pasti ada kesulitan untuk membuat setting desa-nya sempurna sehingga beberapa detil dihilangkan. Saya hanya sedikit menyayangkan.

Hal ganjil berikutnya adalah rumah Zainuddin di Surabaya yang begitu besarnya. Sempat dijelasin sih bahwa itu murah, tapi untuk seorang pebisnis cabang percetakan untuk sampai punya banyak waiters di rumah? Aneh.

Setting batavia dan Surabaya-nya lumayan meskipun agak miskin pemandangan. Masih bisa dinikmati dengan lumayan.

Yang paling disayangkan adalah penggarapan CGI yang sangat mentah di adegan Kapal Van Der Wijck. Saking mentahnya saya bisa dengan kejam membandingkan kualitasnya sama dengan film laga gajelas di Indosiar. Untuk film dengan standar TKVDW yang bermain dengan tata gambar yang cantik, berasa lompat dari jurang pas di adegan itu. Saya tahu bahwa penggarapan CGI yang benar membutuhkan biaya yang mahal, tapi tolonglah. Paling tidak beri budget agak lebih untuk yang satu ini.

-Cast-

Saya beri tepuk tangan yang meriah untuk Herjunot Ali karna berhasil mengambil hati saya dan adik adik untuk peran Zainuddin. Saya benar benar merasakan bahwa dia menghadirkan karakter dengan lugas; Zainuddin yang berbudi luhur dan teguh, sekaligus rapuh. Zainuddin yang penyayang dan positif. Laki laki baik yang sedang terluka dan tertatih tatih untuk bangkit. Adegan ketika Zainuddin sakit dan Hayati menjenguknya adalah yang paling saya suka. Air mata saya banjir disitu. Entah saya jadi ingat seorang laki laki baik dan rapuh yang saya kenal, menyeka ujung matanya dengan tangan gemetar di acara pernikahan gadis yang sangat dicintainya. Heuuuh… Saya ingat adik saya sempet terkikik lihat wajah saya yang sudah berantakan di adegan itu. Pengalaman yang cukup mengiris hati.

Meskipun ada beberapa detail yang agak aneh. Ini sih mungkin perasaan saya aja, tapi semakin lama, karakter Zainuddin malah semakin terasa ke-Makasar-annya. Apakah ke-Makasar-an itu? Saya pun tak tahu. Hhe. Mungkin definisi di otak saya mengingat gerak gerik teman teman yang asli Makasar. Awal awal masih biasa saja.

“emang begitu ya, orang Makasar?”

Tapi di akhir akhir cerita saya merasa logatnya makin kental dan bahasa tubuhnya makin terlihat. Harusnya kan terkikis karna sudah cukup lama menetap di Batavia. Haha… Entahlah…

Satu yang agak penting, saya sempat melihat beberapa komentar di socmed terkait karakter satu ini. Zainuddin tidak menggambarkan sosok laki laki yang ideal seperti efek Fahri di ayat ayat cinta. Alam bawah sadar saya (dan mungkin sebagian besar penonton lain) tidak membekaskan ‘orangnya’, tapi justru keinginan untuk dicintai dan mencintai sedalam itu. Efek ini yang justru jadi berkesan dari akting Junot.

Pevita Pearce sebagai Hayati masih kurang greget disini. Mungkin karena pengaruh ketidaksukaan pribadi saya terhadap beliau dan ngiri-nya saya bisa dicintai begitu hebat oleh lelaki shalih seperti Zainuddin *mulai gajelas*. Tapi harus diakui, bukan gadis biasa  yang bisa membuat Zainuddin jatuh hati sedalam itu, dia harus spesial, harus berbeda, meneduhkan hati. Pevita memiliki itu dan perannya cukup memuaskan. Kecantikannya juga sesuai dengan deskripsi namanya, kecantikan ciptaan alam… Mungkin saya lebih sreg kalau logat minangnya lebih diasah lagi.

Reza Rahadian sebagai aktor dengan prestasi sederet terlihat agak bingung disini. Saya biasanya selalu suka apapun peran yang dimaikan oleh beliau, tapi tidak untuk yang ini. Karakternya kuat lalu kabur, tidak ada jembatan yang pasti dari perkembangan karakternya dalam film ini. Entah salah penulis skenarionya atau produsernya, atau siapa.

Aktor lain tidak banyak berkesan, memang pusat cerita ini benar benar diantara kedua (atau ketiga?) tokoh ini saja. Pemeran Bang Muluk cukup menghibur, tetapi yang lebih menghibur lagi adalah adegan singkat dengan ayah dan ibunya ketika Zainuddin pertama kali datang. Cukup kocak. Boleh lah…

-The music-

Seharusnya gambar yang cantik dan cerita yang indah bisa diperkuat dengan musik yang digarap serius, tetapi ternyata tidak terlalu dilakukan disini. Kebetulan karna lumayan sering edit edit video, peran musik untuk gambar bergerak itu saya rasakan penting sekali. Naik dan turunnya volume musik tidak smooth. Komposisi aransemennya sudah apik, tetapi lirik lagu terlalu gamblang, kebanting sama dialog di film yang begitu puitis.

Poin poin diatas membuat saya menyimpulkan bahwa produser film ini sebenarnya ‘aim for perfection’, tetapi tidak sungguh sungguh melaksanakannya. Mungkin bukan tidak mau sungguh sungguh, hanya terhalang budget yang terlalu besar, ataupun dikejar waktu produksi yang tidak cukup. Saya tidak tahu, tetapi masih saja menyayangkan beberapa hal.

Di samping semua itu, film ini membekas dengan baik di hati saya dan adik adik saya. Skor akhir dari film ini adalah 7/10. Saya harap juga seluruh masyarakat penonton dapat memetik hikmah dalam dari film ini.

Tentang kesetiaan, dedikasi yang tulus, cinta yang bersih.

Tentang keinginan untuk bangkit, menyembuhkan luka meski perlahan.

Tentang tidak pentingnya kekayaan material, melainkan kekayaan hati.

Tentang kegigihan untuk melanjutkan hidup, memberikan yang terbaik untuk kehidupannya.

 

np: Ke depannya saya akan coba jadi penonton awam sok tahu yang mengomentari film lagi. 😀 Bersiap saja. 😛

Iklan
A li'l note

Visa Lima Negara

Manusia hanya bisa merencanakan dan Allah jualah yang menentukan segalanya. Tapi sungguh, skenario Allah selalu jauh lebih luar biasa…

Begitu menginjakkan kaki di Malaysia pada tanggal 8 September 2013, saya gembira bukan main. Perjalanan dari bandara ke kampus membuat saya berimajinasi akan petualangan petualangan baru yang menyambut, teman-teman baru yang merangkul dan pelajaran pelajaran indah yang bertuah…

Kuala Lumpur yang cantik jelita

Negri baru yang indah ini tak bisa mengelakkan saya dari membandingkannya dengan Indonesia. Twin tower yang tinggi menjulang, didampingi menara KLCC yang memukau. Beradaptasi dengan lingkungan dan makanan yang baru. Serta bahasa yang membuat kita serasa masuk ke dunia upin ipin… Indonesia…Indonesia apa kabar ya?

Bulan awal adalah sibuk sibuknya menjelajah kampus dan Kuala Lumpur. Berhubung kegiatan akademik belum sangat menyibukkan, kami, laskar AIMS ramai ramai mengukir kenangan awal…

Ups! Tentu saja kami belum tahu bahwa ada kejutan besar yang menunggu kami…

Sebelum berlanjut, kita harus melakukan perkenalan awal dengan tantangan besar yang menyambut keluarga AIMS 2013 ini.

VISA.

Agar bisa dengan legal tinggal di negri lain, tentu saja kami harus memiliki visa. Nah.. Ada bermacam-macam visa yang tersedia untuk Indonesia-Malaysia. Yang pertama adalah visa Social visit. Visa ini didapatkan gratis untuk negara negara di ASEAN (intinya, kalau kita travel dari satu negara ASEAN ke nagara ASEAN yang lain bebas biaya visa). Tapi masa berlaku socialvisit ini berbeda beda di tiap negaranya. Di Malaysia, kita boleh tinggal selama 30 hari untuk visa ini. Beda dengan Thailand, social visitnya hanya berlaku 14 hari… Kalau mau lanjut tinggal lebih lama, kita bisa perpanjangan visa (extent) dengan membayar sejumlah dana tertentu. Beda lagi kalau tujuannya untuk dinas, belajar, ataupun menjadi resident. Ada beberapa pilihan visa untuk tujuan tujuan tersebut.

Kami sebagai makhluk makhluk yang memiliki tujuan belajar, tentu saja harus mendaftar untuk visa student. Persayaratan untuk mendaftar visa ini cukup banyak, dokumen Medical check up (dimana saya habis 1,3 jt buat ini.>:(( ),  asuransi kesehatan, surat rincian pembiayaan dan lain lain. Pokoknya kita sudah rempong untuk melengkapi semuanya dan riang gembira pergi ke Internation Office (IO) untuk mendaftar. Ternyata pernyataan selanjutnya cukup mengejutkan;

“Maaf, mulai september ini, peraturan imigrasi negeri Selangor berubah. Bagi exchange student tidak boleh lagi mendaftar untuk visa student. Hanya permanent student yang boleh daftar…”

Jrengg…

Gimana sih ini baru dikasih tahu sekaraangg??! Dokumen dokumen sudah lengkap pula. Padahal komunikasi sudah lancar dari awal awal…

“Pilihannya, kalian mendaftar untuk visa kerja (professional pass visa), atau pergi ke luar negri setiap bulan…”

JRENG lagi… Catatan, mendaftar untuk visa student itu kita hanya bayar 150 rm (sekitar 500.000), dan untuk visa kerja, kita harus bayar 900 rm (sekitar 3.500.000!!). Sementara beasiswa kita hanya 20 juta rupiah yang kalau di konversikan dalam ringgit saat itu sebenarnya hanya cukup untuk 3 atau 4 bulan biaya hidup saja…

Panik sudah…

Kami akhirnya pergi ke pusat imigrasi Malaysia di Putrajaya. Mungkin agak bingung sebelumnya, jadi mau flash info. Pemerintahan malaysia ini sistemnya mirip Australia, jadi satu negara dibagi menjadi beberapa negri (ciri khas negara jajahan Inggris :P). Ada total 9 negri di Malaysia. Negri yang sekarang kami tinggali adalah Negri Selangor, Negara Malaysia (beda ya!). Tiap negri punya sultan-nya masing masing, tapi yang paling tinggi tetap raja. Nah… Mereka punya otonomi daerah masing masing untuk mengatur beberapa peraturan. Sama lahh kaya di Indonesia. CUMA, masalah per-imigrasi-an ini, ternyata NEGRI SELANGOR baru saja merubahnya dan membuat kami harus mengurus berbagai administrasi di PUTRAJAYA. Putrajaya adalah nama kota yang memang diproyeksikan oleh Malaysia untuk menjadi pusat administrasi negara (dan KEREENN ABISS tempatnya! :D).

Image

Foto putrajaya di kesunyian malam

Balik lagi, krisis bertambah dengan ngehnya kami bahwa masa tinggal saudara saudara dari UNS hanya tinggal 3 hari lagi. Artinya, secara legal, mereka hanya boleh tinggal di Malaysia tiga hari lagi dan mau ga mau harus pulang kalau ga punya status visa yang jelas.

Begitu sampai di Pusat imigrasi malaysia, antrian panjang menyambut. Hanya teman2 dari UNS yang ikut mangantri. Lainnya menunggu dengan sabar keputusan pihak imigrasi di deretan tempat duduk. Cukup lama kami menunggu saat itu, hampir lebih dari dua jam kami berharap harap cemas.

Dan dengan isengnya kami sempat ketawa ketawa melihat peta dunia ala Bahasa Melayu. Eropa jadi yuropah dan AS jadi amerika syarikat. Image Saking lamanya menunggu, sebagian dari kami akhirnya pulang duluan karna ada kuliah dan urusan lainnya. Saya berharap semua akan baik-baik saja sampai akhirnya undangan untuk kumpul seluruh laskar AIMS muncul di inbox. Situasinya jadi rumit ternyata. Pihak imigrasi Selangor sendiri belum tahu tentang peraturan yang berubah itu dan menyuruh kami untuk tetap apply visa student. Tapi bagian International Office UPM mengatakan bahwa mereka tidak bisa lagi untuk apply. Katanya, mungkin peraturan itu belum disosialisasikan dengan luas sehingga banyak petugas yang belum tahu. Intinya, kami harus cari cara lain untuk bisa legal tinggal disini selain dari visa student.

Dan berita mengejutkan lainnya, ternyata teman teman UNS harus dipulangkan ke Indonesia karna masa tinggalnya sudah habis dan tidak bisa melakukan perpanjangan tinggal. Heu…

Stress menumpuk saat itu. Teman teman UNS gencar cari tiket paling murah ke Indonesia dengan tujuan apapun. Saya dan teman teman lain yang masih memiliki jangka waktu tinggal 10  hari memutar otak untuk mengambil keputusan yang terbaik. Ada beberapa pilihan saat itu sebenarnya:

  1. Apply visa profesional (visa kerja) dengan membayar 700 rm.
  2. Balik ke Indonesia, urus single pass (visa untuk masuk ke Malaysia dan hanya boleh berada di Malaysia selama 3 bulan).
  3. Pergi ke luar negri tiap bulan supaya dapat cap tinggal 1 bulan di Malaysia.

Dan inilah pilihan2 absurd lainnya:

Picture2

Picture3

Singkatnya, laskar AIMS-pun terbagi menjadi beberapa kubu terkait visa. Sebagian memilih opsi pertama karena memang merupakan pilihan paling aman. Sebagian memilih opsi kedua karena memang timing-nya tepat untuk pulang sejenak ke Indonesia dan melepas rindu dengan keluarga. Sebagian lagi memilih opsi ketiga karena merasa sayang dengan 700 rm yang rasanya memungkinkan untuk diutak atik dan pergi ke luar negri. Saya ada dalam opsi yang ketiga ini.

Berbeda dengan mahasiswa mahasiswa pertukaran pelajar di negara negara lainnya, kayanya hanya kami yang memiliki problematika seperti ini. Sebenarnya bukan hanya visa yang mewarnai perjuangan bertahan hidup di Malaysia. Ada juga masalah dengan status di kampus, kurs yang bergelombang tak keruan, maupun beasiswa yang turun tersendat. Tapi memang bagian paling seru adalah masalah visa ini. Visa yang akhirnya membawa kami menuju takdir kami masing masing. Tiap personalnya mendapatkan pelajaran berharga dengan petualangan yang berbeda.

Saya pun akhirnya merancang perjalanan visa saya sesegera mungkin. Keputusan yang saya buat memang penuh resiko. Pemegang visa special visit tidak dibenarkan untuk mengikuti pendidikan formal. Tentu saja yang saya lakukan adalah pelanggaran. Tetapi saya sudah banyak mempelajari tentang hukum imigrasi yang ada. Banyak kejanggalan tentang visa profesional yang saya temui. Jadi saya mantap mantap saja melakukan petualangan ini meskipun saya tahu banyak tantangan menanti.

Berikut rancangan perjalanan visa yang saya corat coret selamaman: ImageArtinya, visa saya di Malaysia adalah hasil dari mengais kasih dari Australia, Thailand, Singapur dan Indonesia.

Komentar pun bermunculan selama perjalanan itu:

“Kok kamu jalan jalan mulu, hep? ”

“Ngapain sih memang disana?”

“Banyak amat pergi perginya. Gak kuliah ya?”

Saya cuma dengan sabar menjawab…

“Ini juga bukan karena keinginan pribadi. Tapi keadaan yang memaksa untuk terus pergi kaya gitu.”

Dan untuk teman teman yang penasaran dengan cerita visa saya dan teman teman AIMS Malaysia, mungkin penjelasan singkat di atas bisa menggambarkan.

Meskipun rasanya banyak yang akan bilang,

“Ooh… Gitu doang kok…”

But trust me, kalau teman teman dalam situasi yang sama, bukan Cuma masalah utama yang memeras tenaga dan otak, tapi juga tantangan tantangan yang ada akibat konsekuensi keputusan itu. Mengatur jadwal kuliah dan ujian agar bisa selap selip pergi ke luar negeri (dan sistem kuliah dan ujiannya beda lho dengan di Indonesia), bikin perencanaan budget yang matang, ngirit pengeluaran supaya bisa cukup untuk biaya tiket, kaget dapat satu karcis terakhir di tengah malam, ditahan di pihak imigrasi karna disangka teroris, nangis setiap paspor beres di cap, dan kisah heboh lainnya.

Dan sungguh, hal tersebut yang luar biasa berharga. Memberikan pelajaran yang berarti, menghadirkan perspektif yang berbeda. Bukan ‘jalan jalan ke luar negeri’-nya, ‘foto-foto’-nya, atau ‘gaya-gayaan berprestasi’-nya. Tapi pertumbuhan pribadi yang setahap demi setahap dirasakan setiap selesai menunaikan tantangan tersebut. Pertumbuhan semangat belajar dan berkarya untuk bangsa dan negri. Pertumbuhan kesadaran bahwa Allah begitu banyak memberikan karunia dan betapa sedikitnya kita bersyukur.

Bahwa, nggak penting kita pergi kemana, sejauh apa. Kalau ketika kembali tidak ada perubahan berarti dalam diri kita, dalam semangat ataupun dalam sudut pandang kita, sama saja perjalanan itu sia sia.

Insya Allah masih banyak yang mau dibagi dari sekelumit pengalaman saya selama satu semester kemarin. Terutama tentang visa lima negara. Semoga bisa bermanfaat secara sederhana. 🙂

Uncategorized

1 SEMESTER, 5 NEGARA, 10 KOTA (The Beginning)

Siang itu adalah siang yang biasa di Darmaga. Panas menggelora. Saya masih dalam perjalanan menuju fakultas saat tiba tiba sebuah sms datang. Isinya singkat tapi cukup untuk membuat saya tidak bisa tidur semalaman.

 “Hepi, 

disuruh menghadap bu Nunung segera. Soalnya kamu kepilih buat exchange program AIMS.”

Ok. Rasanya siang itu jadi lebih panas dibanding sebelumnya. Panasnya membuat kepala saya pusing dan jantung saya berdegup kencang. Ada hal ganjil yang tiba tiba terjadi saat itu. Saya mengucapkan alhamdulillah dengan mata bertaut dan perasaan yang tidak karuan. Benar benar pribadi yang kurang syukur, bukan?

 Saya memutuskan untuk tidak menemui bu Nunung hari itu. Bu Nunung adalah sekretaris Fakultas Pertanian yang mengurusi beberapa program akademik internasional. Sekitar 5 bulan lalu saya mendaftarkan diri untuk mengikuti program AIMS, Asean International Mobility for Student. Program ini memang jadi program favorit di fakultas saya karena kita dapat merasakan pengalaman kuliah di luar negeri, dibiayai DIKTI, dapat trasnfer sks pula. Terbatas di negara sekitar ASEAN tentu saja. Tapi saya sudah hampir lupa bahkan dengan program tersebut saking lamanya menunggu.

 Dalam catatan target saya, semester 7 memang saya rencanakan untuk mengikuti program pertukaran. Karena itu, saya mencoba mencari informasi tentang berbagai program yang tersedia di IPB. Saya fokus mencari program dengan tujuan jepang, karena negara itu adalah ‘hati’ saya sejak kecil. Yang membahagiakan, sebagian besar kerjasama di IPB memang dengan universitas universitas Jepang. Gak sulit untuk cari program yang menarik dan bagus dari segi kegiatan dan pembiayaan.

 Awal semester enam saya akhirnya mendaftar program HUSTEP, Hokkaido University Short Term Program. Masih kental diingatan saya perjuangan untuk mengumpulkan berkas persayaratan. Saya harus bulak balik ke 5 rumah sakit untuk medical check up, menyetrika kertas2 yang basah kehujanan dan tertidur di koridor menunggu dosen selama 3 jam. Benar benar bukan usaha yang mudah, tapi entah kenapa badan saya terus bergerak dan hati saya terus berbisik bahwa saya berjodoh dengan program ini. Saya lolos sampai tahap wawancara akhir dan dengan sabar menanti hasil seleksi dari Universitas Hokkaido.

 

Di awal semester enam itu juga saya akhirnya berjumpa dengan dua kawan saya yang baru pulang dari Malaysia. Keduanya mengikuti program AIMS selama satu semester disana. Saya melihat banyak aura segar dan perubahan positif yang datang dari mereka, saya yakin bahwa satu semester di Malaysia sangat menyenangkan. Tak lama setelah itu pemberitahuan dibukanya pendaftaran program AIMS tersebar di papan papan pengumuman fakultas. Saya tertarik untuk mencoba, terlebih lagi berkas persayaratannya hanya harus saya ambil dari kopi-an berkas untuk HUSTEP.

 Saya benar benar tak menyangka bahwa pengumuman AIMS datang lebih dulu. Datang 3 bulan setelah saya mendaftar lebih tepatnya. Meskipun digantung oleh HUSTEP lebih lama, hati kecil saya mengatakan bahwa harapan itu masih ada. Tetapi saya harus memberikan jawaban segera. Saya harus membuat keputusan sesegera mungkin.

 Pening di siang yang panas berlanjut kegalauan di malam yang dingin. Jawaban dalam hati datang dengan cepat;

“Ambil kesempatan yang sudah ada dalam genggaman, jangan mencari2 yang belum dimiliki”

 Esoknya saya menemui bu Nunung dan mengurus beberapa hal yang harus disiapkan untuk DIKTI dan UPM. Saya benar-benar mengucapkan rasa syukur yang tulus saat itu.

 Tapi ternyata badai datang seminggu setelahnya.

Saat itu lagi lagi siang hari yang sangat panas. Telepon dari nomor kantor mengganggu saya yang terkantuk kantuk di bengkel ARL.

“Assalamuaaikum… Halo…Ini dari ICO (International Collaboration Office) IPB, dengan saudari Nur Hepsanti Hasanah?”

“Iya, betul pak…”

“Mau menginformasikan bahwa kamu diterima di program HUSTEP dan beasiswa JASSO. Segera cek email ya dek… Ada pemberitahuan langsung dari keduanya…”

Lagi lagi saya mengernyit, dan mengucapkan alhamdulillah dengan perasaan yang lebih bercampur aduk. Bapak ICO di seberang sana meminta saya untuk segera mengurus beberapa hal di kantor, entah kenapa dengan cepat lidah saya menjawab;

“Bapak…, maaf kalau saya menolak mengikuti program bagaimana? Karena saya juga diterima di program AIMS dan saya sudah setuju untuk mengikuti program tersebut.”

Jeda beberapa detik.

 “Nanti kamu coba balas email dari International Office Hokkaido dulu. Jelaskan saja dengan baik alasannya ya. Nanti tolong kabari lagi ke saya”

Malam itu saya berdiskusi singkat dengan orangtua. Orang tua menyetujui apapun keputusan yang saya ambil. Setelah saya pertimbangkan dengan matangpun, program AIMS memang lebih menunjang kompetensi saya di bidang lanskap, sementara HUSTEP lebih kepada pertukaran budaya. Tapi tetap saja sungguh berat mengetikkan kata demi kata penolakan program kepada Prof Takada. Rasanya seperti menolak hal yang paling tidak ingin ditolak.

Dalam kepala saya berputar memori saya sejak kelas 1 SMA. Mulai dari ikut seminar tentang beasiswa ke Jepang, datang ke expo expo ttg kuliah di jepang, les bahasa jepang, beli buku2 tips kuliah dan kerja di jepang, saya benar-benar terobsesi dengan negara ini!

Tapi… Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Manusia hanya bisa berencana dan Allah jugalah yang menentukan takdir cantiknya… Rasa nyeri atas keputusan saya ini akhirnya membawa saya pada takdir lain dengan tantangan yang lebih besar.

Saya tidak akan menyesali apapun. Saya tidak akan mengeluhkan hal apapun.

Dan inilah sekarang saya di negeri jiran yang penuh tantangan.

Program AIMS ini memang hanya satu semester saja. Tapi siapa yang tahu bahwa ianya akan membawa saya ke 5 negara.. 12 kota…?

Uncategorized

PRESIDEN ARSITEK: MENDESAIN INDONESIA SEJAHTERA

Indonesia adalah negara yang kaya.

Siapa yang masih tidak setuju dengan pernyataan itu? Tidak! Tidak bisa digugat bahwa kita memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Tanah andosol coklat yang dari dalamnya menyembul subur ribuan komoditas pertanian. Dimana seorang anak bisa makan singkong rebus yang lezat dari tongkat yang ia lempar. Garis pantai dan laut yang luas terbentang. Ikan bahkan berlompatan kepangkuan kita. Belum lagi kekayaan visual dari lanskap eksotik yang kita punya. Memanjakan mata dan menggerakan bibir untuk senantiasa bertasbih. Indonesia adalah negara kaya? Iya! Iya banget.

novellarosalia.blogspot

Fakta pun membuktikan, Pendapatan Domestik Bruto Nasional kita menduduki peringkat 16* di dunia. Posisi yang kedepannya akan terus merangkak naik mengingat pertumbuhan ekonomi kita lebih dari 6%. Tentu saja ini kabar yang menjanjikan dan menggembirakan. Pergerakan ekonomi ini yang akan menjadi salah satu faktor keberhasilan dari berdirinya negara ini. Apa penentu keberhasilannya? Tentu saja dengan tercapainya tujuan negara Indonesia yang sudah dirumuskan oleh para pejuang proklamasi kita.

“(1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, (4) dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,” (Pembukaan UUD 1945)

‘Memajukan kesejahteraan umum’, saya bawahi kalimat tersebut karena saya yakini bahwa sebenarnya poin yang lainpun memiliki muara yang sama; kesejahteraan.

Sejahtera: aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dr segala macam gangguan, kesukaran, dsb): (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III)

Sebagian besar pengamat menyatakan bahwa tingkat kesejahteraan suatu bangsa dapat diukur dari pendapatan perkapita-nya. Kemapanan ekonomi akan memberikan bangsa tersebut kemakmuran, keamanan dan keselamatan yang diidamkan. Indonesia yang kini sedang mengalami kebangkitan ekonomi tentunya sedang melangkah perlahan menuju keberhasilan itu. PDB Perkapita Indonesia meskipun masih berada di urutan ke 120** dari 190 negara, sudah mengalami peningkatan nilai. Kini, seharusnya, rata rata tingkat pendapatan penduduk sudah 2,7 juta/ bulan. Lumayan bukan? Angka kemiskinan pun semakin menurun perlahan. Kurs yang sempat terjatuh dalam kini mulai tertatih naik.

Sudah sejahterakah bangsa ini?

‘Prosperous’ adalah terjemahan bahasa Inggris dari kata Sejahtera. Tetapi ‘prosperous’ memiliki dimensi yang lebih sempit dari Sejahtera. Prosperous lebih menekankan pada aspek material, sementara sejahtera memiliki makna multidimensional. Ada tuntutan yang lebih dalam dari sekedar materi untuk menjadi negara yang sejahtera. Karena itu, mulailah bermunculan konsep baru untuk mengukur kesejahteraan suatu bangsa. Gross Nastional Happines adalah salah satunya.

Gross National Happiness (GNH) muncul untuk menyeimbangkan sisi fisik dari definisi ‘bangsa sejahtera’. Konsep ini pertama kali dirumuskan oleh Raja Bhutan IV yang merasa ‘mengejar kekayaan ekonomi’ bukanlah hal yang tepat bagi pemerintahannya untuk bangsanya. Ia merasa bahwa yang diperlukan bukan hanya kemapanan material tetapi juga bathiniah. Berbagai indikator dibuat untuk merumuskan kebahagiaan meliputi kondisi ekonomi, lingkungan, politik, religi, budaya, kesehatan, termasuk aktivitas. Banyak negara yang akhirnya terinspirasi dan mencoba mengukur tingkat kebahagiaan nasional-nya. Ternyata banyak negara negara kaya yang rakyatnya justru tidak bahagia. Tingkat kriminalitas yang tinggi maupun banyaknya kasus stress berat terjadi di negara negara tersebut. Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia belum secara resmi mengukur GNH-nya. Beberapa lembaga yang tertarik mencoba memiliki hasil yang beragam. Sebagian berpendapat bahwa kebahagiaan tidak dapat diukur secara kognitif, ia terletak di hati tiap individunya. Sebagian lagi berpendapat bahwa ‘mengejar kebahagiaan’ adalah rumus yang dapat dijabarkan, sehingga usaha untuk mencapai itu bisa dirancang. Saya sendiri sependapat dengan opini kedua. Karena saya seorang Arsitek. Seorang perancang.

UU_Arsitek

Latar belakang pendidikan saya adalah Arsitektur. Awalnya ketika saya melangkahkan kaki di bidang ini, saya mangira akan bertemu dengan dinginnya besi dan kakunya konstruksi. Tetapi tidak. Bidang ini menempa saya–kami, untuk jadi pemimpin utama dalam setiap keputusan yang kami ambil. Kami tidak dituntut untuk sangat handal dalam menggambar, tapi dalam mengolah ide. Kami tidak mendesain sesuka hati kami, tapi melalui analisis dan sintesis. Kami tidak hanya berkenalan dengan material, tetapi juga dengan bagaimana caranya memodifikasi perilaku manusia. Kami bermain dengan ruang, berdansa dengan fungsi dan kelayakan, berkutat dengan memaksimalkan manfaat. Setiap garis dan bentuk yang kami putuskan untuk buat, akan dengan tegas dipertanyakan alasannya. Karena hal ini berkaitan dengan efek setelah itu; bagaimana respon user (baca: pengguna, masyarakat) terhadap desain tersebut? Bahagiakah mereka dengannya?

Kebahagiaan.

Para Arsitek juga ingin meraih itu untuk penggunanya, dimana sebuah negara-pun ingin meraih itu untuk bangsanya.

Maka, ketika kini bangsa Indonesia sudah bisa tersenyum dan bersemangat melihat pertumbuhan ekonominya, apakah berarti tugas pemimpin negara selesai? Apakah berarti pemimpin selanjutnya (dimana kita akan segera menyongsong PEMILU 2014) mengemban amanah yang lebih ringan dibanding sebelumnya? Tentu saja tidak. Masih ada level lain untuk menuju kesejahteraan. Level selanjutnya adalah membahagiakan. Bagaimana definisinya? Kita berada di titik apa saat ini dan harus sampai ke titik mana di masa depan?

Saya akan menilik ‘indeks kebahagiaan’ masyarakat Indonesia dengan pendekatan yang sederhana agar rumusan yang dibuat bisa lebih sempit: kondisi sosial. Bagi saya, masalah sosial di Indonesia sejauh ini dapat disimpulkan dalam satu kata saja: mentalitas. Masyarakat Indonesia bukan lagi pribadi pribadi yang siap mengacungkan bambu runcing melawan penjajah, namun pribadi pemalas yang hanya suka update status di facebook dan mencaci maki di twitter. Mentalitas bangsa Indonesia bukan lagi seorang pejuang, melainkan tukang komentar. Saya rasa menandai hal ini menjadi bagian positif dari kebebasan berpendapat tidak tepat. Yang ada mudahnya adu domba dan perpecahan lewat hal hal yang sangat sepele. Egoisme dan suara pesimisme yang pekat ditumpahakan dimana mana bahkan untuk kabar baik sekalipun. Jarang yang coba saling mencerdaskan, bahkan para pemilik media berlomba lomba saling membodohi bangsanya sendiri. Kini bahkan para pemuda-nya sekalipun tidak ragu untuk mempromosikan video tawuran dan saling tertawa melihat temannya terluka. Prestasi para pelajar dan mahasiswa sepi lapak, tetapi gosip artis dan skandal pejabat ramai semarak.

Mungkin saja masyarakat Indonesia sendiri bahagia bahagia saja dengan kondisi ini. Tapi bahagia yang sakit. Bangsa Indonesia ini dari segi sosial sedang sakit.

Ketika dasar kondisi-nya sudah tahu. Sekarang kita mau melangkah kemana? Mau menyembuhkannya dengan cara apa?

Bagi saya, justru tantangan terbesar bagi pemimpin Indonesia selanjutnya ada disini; Bagaimana pertumbuhan ekonomi yang baik dapat berjalan beriringan dengan masyarakat yang sehat.

Saya yakin bahwa masih banyak pemimpin yang baik di Indonesia. Sosok yang mau bersungguh-sungguh bekerja untuk bangsanya. Tetapi tentu saja hal tersebut tidak cukup. Kerja keras dan kesungguhan harus diiringi dengan kecerdasan dan kualitas seorang pemimpin negarawan. Salah satunya, kualitas seorang arsitek.

Menarik ketika berbicara tentang kualitas seorang Arsitek bagi Presiden. Saya teringat Soekarno yang juga memiliki latar Belakang pendidikan sebagai Arsitek. Ketika masa pra kepemimpinan dan saat kepemimpinannya, beliau merancang dengan hati hati seluruh kebijakan dan langkah yang ia buat. Ia tidak membangun negara dari segi fisik. Ia bermain dengan emosi rakyatnya karena ia tahu bahwa ia tidak sedang membenahi infrastruktur, tetapi peradaban. Rancangan rancangan kepemimpinannya adalah hasil olah pemikirannya tentang masalah masalah rakyat di awal kemerdakaan. Ia sangat sadar bahwa ia berurusan dengan sebuah ‘masyarakat’ yang responsif.

Kualitas untuk berfikir respon ini juga selalu digaungkan oleh dosen dosen arsitektur saya. Dalam buku “Responsive Environment” yang ditulis oleh 5 ahli tata ruang dan arsitektur, sang perancang (baca: pemimpin) harus sangat paham bahwa apapun keputusan dan tindakannya dalam membuat desain akan mempengaruhi lingkungan dalam tujuh aspek psikologis.

1. Desainnya akan mempengaruhi kemana orang boleh dan tidak boleh pergi. Hal ini disebut ‘permeability’.
2. Desainnya akan mempengaruhi banyaknya keberagaman fungsi yang tersedia untuk orang tersebut. Hal ini disebut ‘variety’.
3. Desainnya akan mempengaruhi tingkat kemudahan orang dalam memahami peluang peluang apa saja yang hadir dalam desain tersebut. Hal ini disebut legibility.
4. Desainnya akan mempengaruhi perbedaan penggunaan yang dapat digunakan oleh berbagai tingkat status seseorang. Hal ini disebut robustness.
5. Desainnya akan mempengaruhi interpretasi seseorang dalam menggunakan produk tersebut dalam skala visual. Hal ini disebut ‘Visual Apropriateness’
6. Desainnya akan mempengaruhi keberagaman pengalaman perasaan yang dialami oleh lima indra. Hal ini disebut sebagai richness.
7. Desainnya akan mempengaruhi bagaimana orang dapat membuat dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal itu sesuai dengan perspektif pribadinya. Hal ini disebut sebagai personalization.
(Bentley Alcock Murrain McGlynn Smith, Responsive Environments; a Manual for Designers, 1996)

Tiap generasi memiliki masalah yang berbeda dan solusi yang berbeda pula. Dalam hal ini, definisi masalah utama adalah degradasi mentalitas dan moral, keacuhan bangsa untuk membenahi bangsanya sendiri.

Langkah selanjutnya, apa gol yang ingin dicapai?
Masyarakat yang partisipatif dan aktif dalam membangun bangsa.

Bagaimana caranya? Merumuskan kebijakan atau merancang kepemimpinan dengan mengarahkan masyarakat agar tidak dapat memilih jalan ‘pasif’ (permeablity), tahu bahwa ada berbagai macam jenis kontribusi (variety), mudah untuk melihat peluang (legibility), fleksibel untuk siapa saja (robustness), tertarik (visual apropriateness), terlibat secara emosional (richness) dan menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidupnya serta jalan yang ia pilih (personalization).

Seorang pemimpin mencuri perhatian saya terkait hal ini. Dia adalah Ridwan Kamil, walikota Bandung yang baru saja terpilih untuk periode 2013-2018. Sebelumnya beliau memang sudah terlatih untuk bekerja bersama kaum muda dengan membentuk komunitas komunitas kreatif di Bandung. Ridwan Kamil mempunyai metode membenahi bandung dengan tidak bertindak sebagai SUPERMAN, melainkan SUPER TEAM. Ia membentuk forum dan menjaring volunteer dari berbagai lapisan masyarakat. Ia membuat kegiatan bersih bersih jalan dan naik angkot menjadi hal yang keren dan menyenangkan. Aktivitasnya yang unik dan hangat di jejaring media pun merangkul banyak kalangan. Konsep kepemimpinannya ia rancang agar masyarakat memberikan respon seperti yang ia inginkan. Melalui analisis ‘responsive environment’ di atas; ia merancang masyarakat untuk MAU TURUN KE JALAN untuk membereskan masalah masalah yang ada.

Dua sisi pihak yang mendukung dan mengkritik tentu akan ada. Itulah konsekuensi dari setiap rancangan. Arsiteknya berhadapan dengan makhluk hidup yang memiliki respon. Tetapi siapa yang cukup bernyali untuk menggali seluruh potensi dan kemampuannya untuk menerima konsekuensi tersebut?

Kualitas seorang arsitek handal tentu saja bukan satu satunya hal yang harus ada untuk Pemimpin Indonesia. Ia juga harus dilengkapi dengan kualitas kualitas lainnya untuk menghadapi tantangan Indonesia ke depan. Kompleks. Rumit. Tetapi tentu saja kita bersama sama ingin sampai ke muara Kesejahtaraan itu tadi. Dimana tuntutannya bukan lagi soal sepele infrastruktur, tetapi membawa Indonesia kaya raya yang sedang sakit ini, menuju puncak! Bukan hanya dari segi ekonomi, tetapi juga kemapanan mentalitas. Menebarkan kebahagiaan. Setelah itu dicapai, masih ada level level selanjutnya yang harus ditempuh.

Saya yakin harapan itu masih ada. Harapan itu disanggakan ditiap pundak kita. Karena itu saya menantang teman teman (dan diri saya sendiri). Siapkah mendesain Indonesia Sejahtera?

A li'l note, Uncategorized

Mencoba hal baru dengan hal baru

Lucu rasanya ketika pada akhirnya kita melakukan apa yang kebanyakan org lakukan. Dulu rasanya ‘iih apa sih.. Kayanya saya ga akan jd kaya gtu bangett deh..’ hhaha
Serba serbi gadget ini memang mengkhawatirkan. Entah ini berjalan menuju arah yang baik atau tidak… Balik lagi yg penting pengemudinya… Gadget itu cuma alat kendaraannya…

Tapi pengemudi yg baik butuh izin mengemudi dlu bukan? Yahh… Saya rasa dengan sedikit mengendap endap sya bisa terus belajar meskipun salah dan alfa akan sangat banyak… Yang penting tidak banyak buang waktu sampai pada akhirnya surat izin itu datang…

Uncategorized

MENELAAH DIRI (Introduction of Value)

Banyak hal yang tanpa kita sadari, mengikis tujuan utama kita dalam hidup ini tiap harinya, tiap jamnya, tiap menitnya. Banyak hal yang tanpa kita sadari mulai menggerogoti idealisme yang dengan apik tertanam dalam diri. Asa yang bersemayam cukup lama itu harusnya tetap teguh ada disana. tidak berjalan jalan atau bahkan berlari kemanamana. Ada banyak hal yang harus diwaspadai, ada banyak hal yang mengancam asa kecil tersebut.
Berbahaya.

menelaah diri?

Pada dasarnya degradasi semangat itu pasti akan terjadi. Ada masanya ia datang, lalu mundur kembali. Ada juga masa dimana terkadang jalan terlihat terlalu terjal sehingga memutar kemudi sedikit menjadi pilihan yang menarik hati. Tidak masalah bukan? Hanya yang pada akhirnya menjadi disayangkan adalah; ketika riak riak ‘pemberontakan’ kecil itu muncul, jangan biarkan ianya menjadi ombak yang besar, yang menghantam dan menghancurkan pantai di pulau. Mengikis sedikit demi sedikit pasirnya, menenggelamkan harta berharga dalam pulau itu; asa kecil itu.
Bagi para aktivis, harta itu adalah keinginan untuk berbuat banyak untuk orang lain. Bagi para aktivis, harta itu adalah tekad untuk senantiasa mengabdikan dirinya untuk kebahagiaan banyak orang. Bagi para aktivis, harta itu adalah hastrat tulus untuk membagi cintanya dan memberanikan dirinya untuk mencintai bangsanya.
Menelaah diri
Banyak yang masih compang camping dalam langkah langkah yang dibuat dalam gerakan ini. Pencapaian sederhana menjadi kepuasan jangka lama. Menyedihkan. Tapi sampai saat ini masih begitu adanya. Pengorbanan kecil terasa begitu berat terseret seret. Menyedihkan. Tapi sampai saat ini masih begitu yang dirasa. Harus ada dinamo yang memacu, membakar memanaskan kembali impian besar itu untuk diraih. Karena terancamnya bangsa ini bukan karena tidak ada lagi orang orang berkualitas, tetapii karena banyaknya orang orang hebat yang hanya punya mimpi kecil, dan itu terwujud.
Ketika cahaya asa itu berpendar menghangatkan berbagai sudut bumi, maka yang harus dilakukan adalah membuatnya tetap menghangatkan. Jangan sampai redup atau malah membakar memusnahkan. Bagai kereta yang melaju dalam rel kontribusi, maka harapanya tetap pada jalur yang sama. Tentu saja ada stasiun stasiun untuk istirahat sejenak melepas nafas, tetapi kereta tersebut harus terus melaju lagi.
Nilai membentuk abstraksi idealisme rumit dalam hati tiap aktivis. Menyusun partikel partikel keteguhan dan semangat untuk terus berjuang dalam jalan dan cara yang benar. Mengkristalkan penopang agar kuat ditempa kerikil dan batu apapun yang ingin menghancurkan. Menenggelamkan sebanyak banyaknya nilai-nilai kebaikan dalam diri akan memantapkan langkah ini, langkah yang membuka jalan menuju petualangan panjang.
Pada dasarnya degradasi semangat itu pasti akan terjadi. Degradasi idealisme itu hal yang akan teralami. Tetapi selama ada nilai yang selalu dijunjung tinggi, maka kegoyahan itu (semoga) bisa tegak kembali. Tidak bermaksud untuk berbangga, tetapi memang hanya sedikit pemuda yang mau memikirkan bangs ini. Karena itu tegak dan kuatlah. Ada begitu banyak orang yang menunggu sepak terjang kita nanti. 

Bogor, 29 Mei 2013
Nur Hepsanti Hasanah

A li'l note, Dreams

Express it! be the most usefull by it!

Hi!! my name is Nur Hepsanti Hasanah. Nur and Hasanah are arabic for LIGHT and KINDNESS. Hepsanti means TRUTH. What language is that? it is consisted of three name of my father’s students. hepti,sari and ranti which merge as HEPSANTI. who are they? They are three muslimah that fight for jilbab. So, my father gave me this name in order his young little girl can be a LIGHT THAT BRINGS THE TRUTH AND KINDNESS.

holding dreams
it’s me holding my dreams

I have a looot of dreams. But the most important thing is, those dreams guide me became something that Allah’s love: The most usefull person for everyone around her/him. The spirit of being useful. and I think it is a strength that could be a major arrow in my move. Arrow that sometimes other people do not find.

This is my little journal of my little adventure in my life. Khairunnas Anfauhum Linnas… a dream, and series of act… 😀 enjoy…